Acara TV dibuat AI, Keren Atau Rugi?

Mau akhir tahun, tapi gebrakannya makin menjadi. Baru buka Instagram, sudah dikejutkan dengan gebrakan Trans7 ini.

"Legenda Bertuah", acara dari Trans7 satu-satunya yang menggunakan AI (sumber gambar: cuplikan layar pribadi).

Siap-siap ada meme kayak gini:
"Acara AI banyak tingkah"

Trans7 mengklaim, ini adalah acara TV pertama di Indonesia yang menggunakan AI. Walaupun begitu, sebenarnya ada yang lebih dulu menggunakan AI dalam membuat acara TV, yaitu "Tabir Cerita" dari Shandiego yang tayang di Moji & "Kisah Raja Jawa" di RTV. Tapi, apakah hanya Indonesia saja yang ada acaranya dibuat pakai AI?

Sebenarnya, belum diketahui apakah ada stasiun TV di luar Indonesia yang memakai AI. Tapi, dalam balik layar, ada yang ide-ide acara TV yang dibuat AI. Sebut aja ITV (stasiun TV asal Britania Raya). Sedangkan di media OTT, Netflix pun juga punya acara TV yang dibuat AI.

Lalu, gimana caranya AI buat acara TV? Ternyata, ada situs yang nyediain pembuatan acara TV (sekaligus film) yang menggunakan AI, yaitu "Focal".

Situs "Focal" (belum ada versi bahasa Indonesia, ini hasil terjemahan oleh Google).

Selain Focal, masih ada situs lain dengan fitur serupa, namun belum ditemukan selain Focal.

Namun, mengapa Trans7 tiba-tiba kepikiran buat acara TV dari AI? Kalau dilihat di balik layar, ada kabar mengejutkan bahwa Andi Chairil (Direktur Produksi Trans7) mengundurkan diri setelah 12 tahun berlayar di Trans7.

Penyataan Andi Chairil mengundurkan diri sudah dikabarkan melalui Instagram Atiek Nur Wahyuni (Direktur Utama Trans TV & Trans7) & kebetulan ada komentar dari Andi Chairil (sumber gambar: DAMT 4.0).

Mungkin, ini yang menyebabkan Trans7 jadi begini. Kebetulan dari komentar seseorang di Facebook dalam cuplikan layar di Wikipedia, Direktur Produksi Trans7 saat ini (menurut Wikipedia) diisi oleh Lowong (entah siapa itu, kenal pun kagak, belum tentu juga benar).

Balik lagi soal acara TV yang dibuat AI. Apakah etis untuk membuat acara semacam ini? Sebenarnya, KPI sendiri telah mengatur penggunaan AI dalam penyiaran (bisa dicari artikel itu di situsnya). Artinya, bisa dikatakan bahwa AI kini masuk dunia penyiaran sejak tvOne memperkenalkan presenter AI pertama di Indonesia (entah gimana, presenter AI di tvOne kini sudah tidak tampak lagi). Belum lagi ada OBB berita mudik di GTV yang pakai AI, iklan pakai AI, ilustrasi pakai AI, jingle pakai AI (seperti kasus Trans TV pakai AI dalam jingle-nya), lagu pengiring pakai AI (coba dengarkan lagu pengiring di akhir acara "Bintang MBG" di Garuda TV), bahkan yang paling mengejutkan bahwa animasi "New Keluarga Somat" pun dibuat AI.

Dibalik keunggulan AI masuk penyiaran (apalagi acara buatan AI), ada sisi yang bisa dianggap "tumpul ke atas, tajam ke bawah", yaitu:

Tumpul ke atas:

1. Mempermudah ilustrasi kejadian.

Tajam ke bawah:

1. Terkesan gak kreatif.

2. PHK.

3. Berujung bankrut (jika kebanyakkan).

4. Berisiko melanggar hak cipta.

Jadi, apakah boleh pakai AI dalam pertelevisian?

Sebenarnya gak masalah pakai AI kalau cuma membuat ilustrasi, seperti yang terlihat di "Ada Apa Dengan Dunia" (MDTV) yang cuma gambar doang tapi dikasih sumber atau di "LOL" (Nusantara TV) pakai AI dalam bentuk video cuma menggambarkan bla bla bla tapi masih dalam batas wajar (jarang malah).

Yang penting bolehnya:

1. Cuma menggambarkan ilustrasi, entah dengan tujuan bla bla bla.

Yang gak boleh karena merusak citra:

1. Seluruh tanda kreatif (acara TV/Radio, lagu pengiring/jingle, karya gambar/video, pengisi suara, dll) tercampur AI.

2. Menggunakan AI demi menghemat biaya.

3. Menggunakan AI sebagai pengganti manusia.

4. Presenter diganti AI (takut ada kesalahpahaman/manipulasi informasi).

Yang penting hanya ilustrasi, selain itu gak diperbolehkan. Penonton akan tertarik pasti karena bukan hasil karyanya, melainkan perpaduan antara audio, visual, & kinestetik (gerakan) dengan sentuhan manusia. Jika ada orang yang mendukung acara AI, mohon maaf, itu bukan ciri khas manusia.

Demikianlah blog ke-12 ini. Dah!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal "Duo Trans" dari Sisi Sang Penulis

Nusantara TV & Garuda TV, Berbeda Namun Ada Kesamaan